Tanggap Memerangi Penyimpangan Ibadah (1)

Ada tiga orang berkunjung ke rumah istri-istri Nabi SAW dengan maksud menanyakan ibadah yang dilakukan beliau. Tatkala diterangkan, mereka menganggapnya tinggi dan berkata, “Apalah kita ini jika dibandingkan dengan Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni segala dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang!”

seorang di antara mereka berkata, “Jika demikian halnya, aku akan selalu mengerjakan shalat malam.”

Berkata lain, “Aku kan berpuasa setahun penuh tanpa berbuka.”

Yang lain lagi menimpali, “Aku akan menjauhi perempuan dan tidak menikah selama-lamanya.”

Kado Pernikahan

Kado Pernikahan

Mendengar perkataan itu, Rasulullah SAW mendatangi mereka seraya bersabda, “Kaliankah yang mengatakan ini dan itu? Demi Allah, aku adalah hamba yang sangat takut dan sangat bertakwa kepada Allah dibanding kalian. Akan tetapi, manakala berpuasa, aku berbuka. Setelah melaksanakan shalat, aku juga tidur. Di samping itu,  aku pun punya istri (menikah). Maka barangsiapa membenci (tidak mengikuti) sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.” (HR.Bukhari).

Dari sesuatu yang dikhawatirkan itu, seluruhnya merupakan imbauan dari Al-Qur’an dan Hadits untuk menyegerakan berumah tangga. Seperti kita ketahui, ada kalangan sufi yang tidak mempedulikan (bahkan mengajak orang lain untuk meninggalkan) perkawinan. Imbauan ini adalah kebodohan atau anjuran yang membinasakan kaum muslimin dan mencampakkan mereka ke perbuatan keji. Ibnu Jauzi membantah pendapat mereka dan menjelaskan kesesatan mereka di bukunya. Talbis Iblis.

Golongan pemuda sufi yang tidak menikah bisa menderita gangguan sebagai berikut:

  • Pertama, sakit akibat tertahannya sperma. Apabila sperma seseorang terlalu banyak, ia akan mengalir ke otak. Abu Bakar ibn Zakaria ar-Razi berkata, “Aku pernah melihat sejumlah kaum yang spermanya berlebih. Pada saat mereka menahan diri dengan tidak melakukan hubungan seks sama sekali, tubuh mereka menjadi dingin dan sulit digerakkan, dan mereka dilanda kesedihan tanpa sebab.” Abu Bakar melanjutkan, “Aku pernah melihat seorang lelaki menjauhi hubungan seks, dan akibatnya nafsu makannya lenyap. Sekalipun ia mencoba makan sedikit, tetap tidak dapat menyembuhkan dan menguatkan. Setelah ia kembali melakukan hubungan seks, gejala tersebut hilang seketika.”
  • Kedua, mengerjakan hal-hal yang dilarang. Pada saat seseorang bertahan untuk tidak melakukan hubungan seks, sperma yang ada di dalam tubuh mereka mengumpul. Akibatnya, kegelisahan menyelimuti jiwa. Dampak dari kegelisahan itu pada akhirnya di lampiaskan kepada sesuatu yang seharusnya ditinggalkan. Akibatnya mereka tenggelam dalam hawa nafsu duniawi secara berlebihan.
  • Ketiga, menyukai anak dibawah umur dan gemar melakukan praktik hubungan seks yang menyimpang.

Kebodohan telah mengarahkan sejumlah orang ke jalan yang tak pantas, misalnya memotong batang penis. Dalam pandangannya, perbuatan itu merupakan ungkapan rasa malu kepada Allah SWT, padahal semua itu adalah ketololan yang tak ternilai. Betapa tidak, dengan “benda” itu Allah memuliakan lelaki atas perempuan sebagai “sebab” adanya keturunan. Namun, orang-orang itu berpendapat bahwa yang benar bukanlah seperti itu. Maka mereka memotong penis mereka sendiri untuk menghilangkan keinginan menikah. Sebuah tujuan yang takkan pernah berhasil!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *