Pengendalian Hasrat Seksual (3)

Seorang yang mampu menjaga kesucian sampai memasuki jenjang penikahan akan menghormati istrinya sebagai teman hidupnya dan ibu bagi anak-anaknya. Ia melihat cinta sebagai anugerah yang abadi. Di lain pihak, sang istri memandang kesucian ini sebagai tanda keikhlasan sehingga ia selalu bergantung dan setia kepada suaminya hingga akhir hayat.

Saya sebutkan sekali lagi bahwa menahan diri dari hubungan seks pranikah adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan sampai tiba saatnya pernikahan yang sesungguhnya. Setelah itu, masih ada hal-hal lain yang mengharuskan seseorang untuk melakukan sesuatu. Misalnya mengatasi beban hidup, merenggangkan jarak kelahiran anak dan sebagainya. Barangsiapa mampu menahan diri sebelum pernikahannya tiba dan hal itu dilakukan dengan serius, niscaya ia mampu menjaga kemaslahatan istrinya.

Bila seseorang bertanya, “Hal itu baik sekali, tetapi mungkinkah untuk dilakukan?”

Saya jawab, “Ya, bisa, sebab tabiat manusia itu selalu menjaga dirinya dari kekeliruan sampai ia menikah. Contoh tentang hal ini sangat banyak.”

Bila ia kembali bertanya, “Tidakkah pencegahan diri itu membahayakan kesehatan.” Maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Sebagian dari mereka ada yang menduga bahwa mencegah hubungan seks pranikah menyebabkan penis mengecil, sedangkan yang benar adalah sebaliknya. Lebih jelasnya tentang hal ini dapat ditanyakan kepada para dokter. Mereka akan berkata bahwa hampir semua suami yang mampu menjaga kejantanan sempai memasuki jenjang pernikahan.
  2. Sebagian yang lain mengatakan bahwa pencegahan diri itu mempengaruhi perkembangan penis. Akan tetapi, kecerobohan dalam melakukan hubungan seks lebih mungkin menjadi faktor yang mempengaruhinya. Alasannya, hal itu menjadikan penis selalu terangsang, hingga pada saatnya nanti tak lagi mampu melakukan tugasnya dengan baik. Sedangkan menahan diri (secara praktis) akan membuatnya tenang dan lembut. Kepekaan rasa cinta akan terwujud jika pikiran dan imajinasi seseorang tidak liar.
  3. Yang lain berpendapat bahwa pencegahan diri akan menyebabkan seseorang terbiasa melakukan masturbasi atau onani. Padahal justru sebaliknya. Mereka yang amoral dan sering menonton pornografilah yang mudah terdorong untuk melakukan hal itu. Jika telah melakukannya satu kali, seseorang akan tergoda untuk melakukan pada kesempatan lain karena kemauan (pencegahan diri)nya sudah hilang. Begitu pula di dalam penjara, kebanyakan narapidananya melakukan onani atau masturbasi. Saya pernah mengadakan riset tentang apakah kemauan kuat dan kesucian cukup sebagai pelindung dari perbuatan semacam itu. Kesimpulan yang saya peroleh adalah hubungan seks yang dilakukan dengan lawan jenis akan memberi kepuasan lebih besar daripada yang dilakukan dengan sesama jenis (homoseks). Onani dan semacamnya hanyalah pelampiasan termudah untuk memuaskan hasrat seks. Adapun yang terpenting adalah menerima bahwa pencegahan diri sangatlah penting dan bermanfaat.
  4. Mereka menganggap pencegahan diri bisa membahayakan kesehatan seperti berikut ini.
  • Hilangnya tujuan utama yang dapat mengalahkan pencegahan diri. Sebenarnya penyakit ini lebih karena seseorang terbiasa melakukan perbuatan tersebut dan bukan akibat dari pencegahan diri.
  • Seringnya terbawa menjadi mimpi basah. Mimpi basah adalah cara alamiah agar sperma bisa dikeluarkan tanpa paksaan. hal itu bukan perkara yang mendatangkan dosa.

Celakanya , sebagian pemuda keliru dalam memahami persoalan tersebut, di mana mimpi basah dianggap menimbulkan bahaya. Mereka khawatir akan selalu dipenuhi pikiran-pikiran mesum seperti yang terjadi dalam tidurnya. Jadi, pikiran semacam ini timbul karena kesalahan pemahaman. Yang patut kita ingat adalah pikiran tentang hal-hal mesum memang kerap terjadi saat menjelang tidur. Kebiasaan itu merupakan kehendak tidak langsung (datang secara tiba-tiba). Jadi, hal itu bukan akibat dari pencegahan diri, melainkan lebih karena kemerosotan moral dan hal itu bisa dipertanggung-jawabkan.

Adapun impotensi yang menimpa sebagian orang hanyalah akibat dari kecerobohan dalam melakukan masturbasi dan hubungan seks, bukan karena pencegahan diri dari hal-hal yang berkaitan dengan seks secara umum.

Kado Pernikahan

Kado Pernikahan

Pembahasan tentang masalah ini sebenarnya masih sangat panjang. Pembaca bisa melakukan konfirmasi dangan dokter dan ahli yang sudah dikenal. Mereka pasti paham dengan uraian yang saya sampaikan. Insya Allah ini merupakan pengalaman dan pelajaran yang berharga, nyata lagi benar.

Ibnul Qayyim berpendapat tentang hadits “Wahai kaum muda…” dan kalimat “…barang siapa di antara kalian punya memapuan untuk menikah maka menikahlah…” ia menafsirkan “kemampuan” sebagai kemampuan untuk melakukan senggama dan kemampuan menanggung biaya pernikahan.

Selanjutnya, “…sedangkan barang siapa belum mampu maka hendaknya ia berpuasa, dan puasa itu adalah perisai baginya.”

Hadits ini menunjukkan obat manjur bagi syahwat ketika seseorang belum mampu menikah. Puasa diketahui bisa menekan nafsu syahwat dan memperkecil rangsangan. Syahwat biasanya menguat bila kita banyak makan atau memakai cara lain.

Puasa menutup peluang bagi syahwat untuk menguat, sebagaimana dikatakan, “Barangsiapa membiasakan diri berpuasa maka syahwatnya akan terkontrol.” Syahwat yang lurus adalah kebaikan yang terletak di antara dua perbuatan tercela, di mana keduanya muncul dari sifat yang lurus. Maka sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah.

Akhlak utama itu berposisi di antara dua sisi sifat yang melampai batas. Agama yang lurus berada di antara dua kesesatan. Sunnah terletak di antara dua bid’ah, dan kebenaran berada di dalam perselisihan. Bila anda ingin mendapatkan kebenaran maka haruslah berkata-kata yang sederhana saja (tidak berlebihan). Perkataan yang tidak berlebihan ini terletak di antara dua sisi yang berjauhan dari kebenaran.

Sebenarnya, rincian berbagai kalimat di atas bukanlah maksud utama saya. Semoga Allah SWT melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua.

<Sebelumnya< Halaman Utama >Selanjutnya>

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *