Pengendalian Hasrat Seksual (2)

Saya kemukakan kepada para pembaca bahwa di buku biografi Umar Ibn Abdil Aziz yang ditulis oleh Ibu Al-Hakam dikisahkan: “…Sang putra meminta agar ayahnya menikahkannya dan membayarkan mahar pernikahan itu dari Baitul Maal. Pada saat itu, putra beliau telah memilih seorang perempuan sebagai calonnya. Maka beliau marah dan segera menulis surat kepada sang putra, ‘Suratmu telah kuterima. Engkau memintaku mengambil harta dari Baitul Maal untuk memenuhi kebutuhan pernikahanmu, padahal putra-putra kaum Muhajirin juga banyak yang belum menikah. Aku tak tahu mengapa hal ini kau tuliskan dalam suratmu kepadaku?!’ Sang putra membalas surat ayahnya demikian, ‘Jika demikian halnya, ananda kira kita masih punya sejumlah harta (yang diperoleh sebelum sang ayah berkuasa). Juallah dengan harga yang pantas sebagai maharku.’..”

Khalifah sebenarnya tidak heran dengan tuntutan putranya. Akan tetapi, beliau lebih mengutamakan pernikahan pemuda-pemuda dari kaum Muhajirin. Kemudian Umar Ibn Abdil Aziz menulis surat kepada bawahannya, “Laksanakalah hak orang-orang yang berutang.” Mereka membalas surat beliau. “Kami menemukan seorang lelaki (pengutang) yang punya tempat tinggal, pembantu, kuda dan beberapa perabot rumah tangga di dalam rumahnya.” Beliau membalas, “Seorang muslim memang harus punya tempat tinggal untuk berteduh, pembantu untuk melayaninya, kuda untuk berjuang menghadapi musuh dan perabot rumah untuk diri sendiri, istri dan anak-anaknya. Namun , ia adalah seorang berutang. Maka dari itu, bayarkanlah semua utangnya yang berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga.”

Hal tersebut hendaknya dibicarakan sebelumnya, yakni bahwa pemerintah punya tanggungan kepada seluruh rakyatnya berupa jaminan sosial untuk istri, tempat tinggal dan pengadaan pembantu rumah tangga.

Sesuai dengan topik bahasan, kita harus menjaga diri dari hal-hal yang melanggar syariat dan memuliakan hasrat seks sejauh perkawinan itu sesuai dengan syariat Islam. Dari kesimpulan pembahasan di atas, saya melihat bahwa teori yang dikemukakan Freud itu adalah ajaran Yahudi yang menyimpang, yang intinya, “Seseorang harus berani melakukan perbuatan nista demi mencegah terjadinya perbuatan nista yang lebih besar, yang dapat membahayakan kesehatan.”

Kado Pernikahan

Kado Pernikahan

Seorang ilmuwan bernama Henry Miller berkata, “Cara terbaik untuk menjaga diri dari penyakit ialah dengan mencegah hubungan seks pranikah, bagaimanapun caranya, selama cara itu memberi manfaat kepada kita.”

Menggunakan segala kesempatan untuk melakukan hubungan seks dapat menghancurkan kepribadian dan bisa menghilangkan pilihan, yang kesemuanya dibangun dengan kemauan keras. Sebagaimana kita ketahui, ada faktor-faktor yang dapat memperkokoh kepribadian kita. Di antaranya kita harus lebih dulu memahami tabiat insting seks itu. Menahan diri dari hasrat tersebut mula-mula memang sangat sulit. Namun, akan jadi mudah bila kita mempersiapkan diri secara seirus.

Seseorang yang mulai terbelenggu oleh hasrat seks tidak akan menilai segala sesuatu, kecuali berdasarkan hasrat yang sama. Oleh karena itu, sangat diragukan kemampuannya menjaga kesucian guna memadamkan perasaan yang meracuni. Bahkan mungkin dia akan mencari tahu seluk-beluk perempuan dan mengikuti tradisi masyarakat yang rusak, yang pada akhirnya akan mendatangkan kebosanan dan kehampaan.

Barang siapa sanggup mengendalikan tuntutan jasmaniahnya, perasaannya menjadi peka dan halus, cinta suci yang tumbuh dari lubuk hatinya mendatangkan kebahagiaan, dan pikirannya menjadi jenih. Maka, kehidupannya pun akan sarat dengan berbagai makna luhur.

Seseorang yang menikah jadi tahu banyak tentang keadaan seorang perempuan secara utuh (kepuasan jasmani). Ia tidak akan konstan di satu keadaan dan mungkin tidak mampu memahami apa yang bergelora di dada istrinya. Ini bisa menjadi penyebab perceraian.

<Sebelumnya< Halaman Utama >Selanjutnya>

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *