Orang Yang Menikahi Pezina adalah Pezina

Orang Yang Menikahi Pezina adalah Pezina

Allah SWT berfirman, “Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan atau dengan perempuan musyrik, dan pezina perempuan tidak boleh menikah, kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin.” (QS.An-Nur:3)

Ahmad ibn Hambal berpendapat bahwa akad nikah tidak sah bila datang dari lelaki yang baik untuk perempuan lacur, selama perempuan itu belum bertaubat. Namun, akad nikahnya menjadi sah bila ia telah bertaubat. Sebaliknya, tidak sah pernikahan perempuan baik-baik dengan lelaki lacur sebelum ia bertaubat. Hal ini dijelaskan di penghujung firman Allah di di surah An-Nur di atas.

Ibnu Katsir berpendapat haram hukumnya menikah dengan pelacur atau menikahkan perempuan baik-baik dengan laki-laki lacur (fajir).

Patut disesalkan dari kebanyakan muslimin, mereka jarang sekali mengambil pelajaran dari peringatan yang sangat berharga.  Apabila diperingatkan bahwa calon menantunya adalah pezina, dengan geram kerabat yang dipinang membantah, “Daun sebuah pohon tidak akan bergoyang kecuali ditiup oleh angin yang menggoyangnya.”

Kado Pernikahan

Kado Pernikahan

Demikian pula jika diberitahu bahwa sang calon menantu tak pernah shalat atau gemar mabuk-mabukan, mereka berkilah, “Ia belum paham akan hal itu karena masih muda dan  Allah akan menghapuskan kesalahannya.” Apabila dikatakan bahwa sang calon menantu buruk akhlak dan akidahnya, mereka tidak peduli. Namun, kalau dikatakan bahwa si calon menantu adalah orang yang sangat sederhana, spontan mereka menolak, sekalipun sifat dan perilakunya baik serta berasal dari keturunan yang baik pula.

Celaka! Sungguh celaka perempuan muslimah yang punya suami macam itu, masa depannya terancam dan kehidupan suami istri pun dihadang oleh kerusakan . adapun fitnah yang akan menimpa istri yang dinikahi oleh seorang pezina adalah kerusakan moral dan agama dan kehidupannya akan merugi serta calaka.

Abu Nu’aim menceritakan ketika Abu Thalhah meminang Ummu Sulaim. Sebelum menerima pinangan itu, Ummu Sulaim berkata, “Sebetulnya aku suka kepadamu, tetapi sayang engkau orang kafir sedangkan aku perempuan muslimah. Pernikahanku denganmu tidak akan sah”

Abu Thalhah pun bertanya, “Jadi, bagaimana keputusanmu, Romso?”(Romso adalah nama sindirian).

Ummu Sulaim menegaskan, “Bagaimana keputusanku?”

Abu Thalhah melanjutkan, “Mana yang kau pilih, kuning atau putih?” (maksudnya membujuk dengan emas atau perak)

Ummu Sulaim menjawab, “Aku tidak akan memilih baik kuning maupun putih. Engkau menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat dan tidak akan menjadikamu seorang yang kaya. Tidakkah engkau malu menyembah kayu, yang kayu itu dijadikan sebagai penghangat oleh manusia? Jika engkau masuk Islam, itu cukup sebagai mahar pernikahanku denganmu. Aku tidak menginginkan maskawin selain itu.”

Abu Thalhah bertanya, “Kepada siapa aku mengIslamkan diriku, Romso?”

Ummu Sulaim menjawab, “Kepada Rasulullah.”

Maka Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah SAW dan menyatakan keislamannya.

Mitra Kami

am production
Mari jadikan segalanya lebih baik lagi.

Terima kasih atas kunjungan ada dalam website sederhana kami, masih banyak artikel menarik lain yang belum sempat kami unggah disini, pastikan anda tetap mengikuti perkembangan terbaru halaman ini, catat dan simpan alamat website ini agar anda mudah mencari kami…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *