Mencari Pasangan Yang Saleh dan Salehah (4)

Sebagian sahabat Nabi SAW mengatakan bahwa latar belakang diperbolehkannya menikahi perempuan Ahli Kitab adalah karena pada waktu itu perempuan muslimah masih sangat sedikit jumlahnya. Belakangan, hal itu diharamkan karena munculnya kekhawatiran bahwa lelaki muslim akan kembali pada keyakinan semula, di samping itu perempuan muslimah telah banyak jumlahnya.

Para Ulama berbeda pendapat tentang pernikahan lelaki muslim dengan perempuan Ahli Kitab. Ibnu Abbas berpendapat, “Tidak boleh menikah dengan perempuan Ahli Kitab.” Sedangkan jumhur Ulama berpendapat, “Boleh menikah dengan mereka, hanya saja makruh hukumnya.” Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT, “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS.Al-Mujadilah:22).

Pendapat yang lebih kuat sebagai pegangan adalah pendapat Ibnu Abbas, sebab dikhawatirkan adanya bahaya yang lebih besar dalam relita kehidupan dewasa ini.

Musthafa Shidiq Ar-Rafi’I menulis di bukunya, “Saudara-saudaraku, janganlah kalian menikahi perempuan asing (nonmuslim). Jika seorang muslim menikahi perempuan asing maka akan muncul enam kejahatan.

Kado Pernikahan

Kado Pernikahan

Pertama, menghilangkan hak perempuan muslimah untuk menikah dan membuat mereka jadi tak laku. Ini disebut kejahatan wathaniyah.

Kedua, perilaku dan kelebihan kita bisa campur-aduk dengan akhlak orang asing akibat lemahnya budi pekerti. Ini disebut kejahatan akhlak.

Ketiga, menyusupkan tipu daya ke dalam jiwa dan keturunan kita. Ini disebut kejahatan sosial.

Keempat, orang asing itu akan leluasa melakukan apa saja yang ia inginkan di lingkungan kita. Ini disebut kejahatan politik.

Kelima, memunculkan pengaruh yang berlandaskan pada hawa nafsu ketika hendak menetapkan suatu hukum, dan berusaha mencuci otak anak cucu kita sehingga mereka akan melakukan apa saja sekehendak hati. Ini disebut kejahatan agama.

Keenam, kemiskinan akhlak sangat mempengaruhi seseorang sehingga ia tak lagi mempedulikan kejahatan-kejahatan yang telah disebutkan. Inilah yang disebut kejahatan kemanusiaan.”

Yang dimaksud “orang asing” dalam konteks hadits di atas adalah perempuan-perempuan Ahli Kitab, sebab kebanyakan orang asing adalah orang-orang musyrik. Karenanya, sangat disayangkan bila seorang lelaki muslim menikah dengan mereka. Di samping itu, Allah SWT telah mengharamkan lelaki muslim menikahi perempuan-perempuan Majusi dan perempuan-perempuan penyembah patung, sebagaimana firman-Nya, “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu.” (QS.Al-Baqarah:221).

Demikianlah bahayanya saat lelaki perempuan dalam dua akidah yang berbeda bersatu menjadi suami istri, sebab akan berakibat pada rusaknya akidah dan moral anak-anak mereka. Bila bahaya telah tergambar dengan jelas maka hukum dikembalikan ke asalnya, yaitu haram.

Saya berpendapat, pelarangan pernikahan seorang mukmin dengan Ahli Kitab terkait dengan soal tanggung jawab pendidikan anak-anak maupun agama. Juga sebagai antisipasi agar tidak terjatuh dalam kemusyrikan. Di khawatirkan penyakit tersebut menular pada anak-anak bila kepribadian suami kalah kuat dengan istri, hingga akhirnya pendidikan mereka terbengkalai.

Sebuah kaidah fikih mengatakan, “Sesuatu yang menyempurnakan sesuatu yang wajib maka hukumnya menjadi wajib.” Dengan kata lain, mencegah kerusakan itu lebih utama daripada memperbaiki. Pada zaman sekarang, syarat tersebut sangat sulit karena dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam bahaya.

Sebelumnya

Kado Pernikahan

Selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *