Mencari Pasangan Yang Saleh dan Salehah (3)

Agama sangat berharga dalam pandangan syariat Islam, sebab istri atau suami yang baik agamanya bisa membantu menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak mereka. Jika tidak maka keduanya akan makin jauh dari nilai-nilai agama, bahkan bisa mencelakakan kehidupan rumah tangga mereka.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka nikahilah karena agamanya, (jiak tidak) niscaya engkau sengsara.” (HR.Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasa’i).

Kado Pernikahan

Kado Pernikahan

Agama merupakan hal teramat penting dalam membina kehidupan berumah tangga, sebab suami yang senantiasa taat kepada perintah agama dan menjauhi larangan-Nya akan menjadi suami yang baik bagi sang istri dan dapat dipercaya. Begitu juga istri salehah yang akan selalu menjaga kehormatannya, penuh perhatian terhadap rumah tangganya, mendidik anak-anak, serta menjaga hak-hak suaminya. Agama merupakan pencegah di antara dua kekuatan, yaitu amarah dan syahwat. Dengan agama, segala kejahatan dan kerusakan moral cepat teratasi. Agama adalah sesuatu, dan berlebihan dalam agama merupakan sesuatu yang lain. Ali ibn Abi Thalib pernah berkata: “Sebaik-baik umat adalah kelompok yang tengah-tengah, menjadi rujukan kelompok yang berlebih-lebihan dan sebagai panutan bagi generasi berikutnya.”

Dalam keluarga, jika suami melupakan hak istri dan keluarga dengan menghabiskan waktunya untuk beribadah, berpuasa sepanjang siang dan mendirikan shalat sepanjang malam, ini berpotensi memicu keluhan istri. Begitu pun sebaliknya. Seorang suami pasti mengeluhkan istri yang selalu menghabiskan waktunya untuk beribadah sampai mengabaikan kewajiban terhadap suami dan anak-anaknya. Dua contoh itu akan menjadi bencana bagi keduanya. Adapun cara yang efektif adalah mengambil jalan tengah, yaitu beribadah secukupnya.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Ibnu Amr ‘Ash melakukan puasa selama satu tahun. Begitu mengetahui hal itu, Nabi SAW memanggilnya dan bersabda, “Jika engkau memang ingin berpuasa maka berpuasalah seperti apa yang dilakukan oleh saudaraku, Daud AS. Dia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari. Itu adalah kebaikan bagimu jika kamu mengetahui, yakni bahwa tubuhmu punya hak atas dirimu, dan keluargamu juga punya hak atas dirimu.” (Dari Al Uzmatu Az-Zaujiyah wa ‘Alajiha, tulisan Dr. Muhammad Zaki Syafi’I, hlm.27-37).

Kecantikan bukannya tidak dibutuhkan, tetapi faktor ini bukan tujuan utama dalam mencari pasangan hidup. Telah diperintahkan oleh Nabi SAW kepada para peminang, “Lihatlah dia, sebab hal itu bisa melanggengkan ikatan di antara kalian berdua.” Hadits ini merupakan penolakan terhadap perempuan yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah.

Maka, berbahagialah istri yang beragama baik. Janganlah terfokus pada harta benda semata, niscaya Allah SWT akan memberkahi dan memperbanyak harta anda berdua.

Melalui keterangan ini kita bisa memahami betapa pentingnya memilih pasangan bagi calon suami istri. Hendaknya berhati-hati. Terburu-buru dalam mencari pasangan hidup dengan hanya berdasarkan keindahan akan berakibat buruk. Cara memilih yang benar adalah dengan melihat, merenungkan dan meneliti pendidikan dan akhlak calon pasangan.

Di buku As-Sa’adah Az-Zaujiyah fi al-Islam diceritakan bahwa pada suatu hari si penulis mendengarkan radio yang sedang menyiarkan acara dialog. Seorang lelaki ditanya, “Apakah anda senang mempunyai istri rupawan?”

Lelaki itu menjawab, “Tidak” kemudian di ditanya kembali, “Adakah orang yang tidak menyukai kecantikan yang memikat?”  Lelaki itu menjawab, “Kecantikan yang memikat itu mendatangkan ketenangan yang menyejukkan hati sekaligus derita tiada akhir.” Jawaban itu membuat si penulis kagum. Oleh karena itu, perempuan yang dia cari pertama-tama dia lihat agamanya, tabiatnya, kebaikannya, keturunannya, pendidikannya serta kecerdasannya. Semua ini bukan berarti mengabaikan kecantikan.

Sebagian Ulama memberikan sejumlah nasihat tentang cara memilih pasangan hidup yang baik, sebagai brikut.

  1. Menanyakan bagaimana pendidikan di rumah tangganya, bukan menanyakan tempat ia bersekolah.
  2. Menikah dengan putri yang saleh
  3. Pernikahan merupakan kehidupan bersama, maka hendaknya memilih pasangan yang serasi dengan diri sendiri, baik dari segi kesukaan, tabiat, maupun budi pekerti.

Bila ditanyakan, “Jika faktor agama lebih ditekankan oleh Rasulullah SAW, bagaimana dengan pembolehan menikahi perempuan Ahli Kitab?”

Jawabannya, “Pembolehan menikah dengan perempuan Ahli Kitab merupakan rahmat dan kasih sayang Allah terhadap Ahli Kitab, serta kesempatan  bagi mereka untuk kembali ke agama fitrah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad SAW. Harapannya, perempuan-perempuan Ahli Kitab itu bisa menemukan kembali kebenaran hakiki tatkala bergabung dengan kehidupan yang Islami.”

Maka, Islam membawa pengaruh cukup besar dan nilai-nilai teramat luhur untuk memasukkan istri-istri ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, sekalipun tidak secara keseluruhan.

Sebelumnya

Kado Pernikahan

Selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *