Mencari Pasangan Yang Saleh dan Salehah (2)

Diriwayatkan dari Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Baihaqi di buku Ad-Dala’il.

Diriwayatkan dari Az-Zuhri bahwa Rasulullah SAW memerintahkan Bani Bayadah supaya menikahkan perempuan dari golongan mereka dengan Abu Hindun. Mereka menjawab, “Apakah kami harus menikahkan anak-anak perempuan kami dengan pemimpin kami, Rasulullah?”

Maka turunkanlah ayat trsebut. (HR.Abu Daud di Al-Marasil, Ibnu Mardawiyah dan Baihaqi di Sunan).

Az-Zuhri berpendapat bahwa ayat tersebut turun untuk Abu Hindun saja. Namun, menurut riwayat dari Umar ibn Khathab disebutkan bahwa ayat ini turun di Makkah dan ditujukan kepada orang-orang Arab secara keseluruhan.

Kado Pernikahan

Kado Pernikahan

Sebagian orang bertanya, “Bagaimana mungkin pernikahan bisa harmonis antara lelaki berpunya dan perempuan papa, atau sebaliknya, sedangkan mereka sangat berbeda dalam kebiasaan, yang akhirnya membedakan mereka dari segi tabiat, dan itu bisa mendatangkan perceraian di antara mereka?”

Saya jawab, “Islam mempersatukan suami istri, baik dalam segi kebiasaan maupun kesenangan, sehingga mereka menjadi satu rangkaian tak terpisahkan, selama perintah dan larangan agama masih mereka indahkan. Dengan hal ini, perbedaan kaya miskin bisa dijembatani sehingga apa yang telah dimufakatkan bersama, baik dalam pengertian maupun perhatian, menjadi sempurna.”

Seorang ilmuwan Barat menyaksikan, “Orang Islam dari Hindustan hidup berdampingan dengan orang Arab tanpa memandang perbedaan di antara keduanya. Semua itu dimungkinkan bila kedua penganut Islam itu selalu berpegang teguh dangan keyakinan mereka. Keyakinan itulah yang menjadikan mereka berkerabat dalam satu perjanjian, mempersatukan mereka dalam satu rangkaian, dan menghindarkan mereka dari  perselisihan.”

Contoh seperti ini dewasa ini banyak menghilang dari benak kaum muslimin disebabkan mereka menjauh dari tradisi Islam dan mengikuti gaya hidup orang-orang  tak bermoral. Pada akhirnya mereka cenderung untuk hidup di bawah belas kasihan orang-orang yang lebih kaya daripada mereka.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Apabila seseorang yang agama dan akhlaknya baik meminang kepadamu, hendaknya kau nikahkan ia dengan anakmu. Jika engkau tak melaksanakannya niscaya akan terjadi fitnah dan bencana yang meluas di muka bumi.” (HR.Tirmidzi dengan sanad sahih).

Perintah yang dimaksud oleh hadits di atas adalah seandainya setelah pinangan itu pernikahan tidak dilaksanakan, akan merebaklah bencana berupa kerusakan dan kebejatan akhlak. Nabi SAW juga pernah bersabda, “Jika kalian tidak segera melakukan pernikahan setelah adanya pinangan maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di atas bumi ini.”

Mengapa demikian? Sebab kebanyakan manusia yang tidak menikah tidak selamat dari godaan dan bahaya, kecuali dengan ketakwaan, menundukkan pandangan, serta meneguhkan jiwa. Hanya dengan cara inilah segala macam godaan setan bisa ditepis. Tanpa adanya pernikahan, hati cenderung bergejolak, padahal hati adalah modal utama untuk membimbing seseorang ke jalan yang di ridhai Allah. Hati yang selalu sibuk atau senantiasa bertuju kepada Allah adalah satu modal menuju kebaikan.

Jika seorang istri buruk dalam beragama, dia mungkin akan memorak-porandakan harta benda suaminya. Ini berpotensi menjadikan kemuliaannya jatuh dan kehidupannya jauh dari harmonis. Apabila seorang suami mengetahui kebejatan sang istri, tetapi tidak berusaha memperbaikinya, sama artinya ia merestuinya. Padahal ini sangat bertentangan dengan firman Allah, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” Oleh sebab itu, Rasulullah SAW sangat menekankan masalah agama ini kepada kita , sebagaimana sabda beliau, “Hendaklah melihat agamanya, niscaya kalian akan bahagia.”

Sebelumnya

Kado Pernikahan

Selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *