Mencari Pasangan Yang Saleh dan Salehah (1)

Tergesa-gesa menentukan pasangan hidup tanpa meneliti lebih dulu merupakan masalah yang akan berujung pada bencana. Berapa banyak muda-mudi yang hanya fokus pada soal materi dan terjebak dalam berbagai masalah, yang akhirnya menjadi penyesalan.

Kado Pernikahan

Kado Pernikahan

Di salah satu universitas yang cukup dikenal di Barat ada yang khusus membuka konseling psikologi. Dari situ kaum muda di sana bisa mengambil hikmah, khususnya yang berkenan dengan pasangan hidup, agar tidak gegabah dalam menentukan pasangan hidup.

Andai saja universitas-universitas di negri ini mau melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan generasi muda kita, niscaya itu akan sangat membantu mereka dalam meredam gejolak kerusakan moral. Islam menekankan perhatian soal pasangan hidup. Itu sebabnya agama ini sangat menganjurkan untuk meneliti lebih dulu calon pasangan dari berbagai segi. Baik dari segi akhlak, agama, maupun perilaku keseharian, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur’an dan Hadits berikut ini, Allah SWT berfirman: “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) dan Maha Mengetahui.” (QS.An-Nur:32)

Ayat ini mengisyaratkan perlunya kesetaraan dalam perkawinan agar kemaslahatan bisa terwujud. Namun, kesetaraan yang dimaksudkan adalah dalam soal agama, budi pekerti, dan kemampuan untuk menikah. Ini perlu dicamkan baik-baik, sebab Allah juga menakdirkan adanya orang-orang yang lebih mementingkan status sosial dalam sebuah perkawinan. Maka perkataan siapakah yang lebih agung daripada firman Allah!.

Sekali lagi, kesetaraan dalam ayat itu terfokus pada agama. Adapun yang menjadi pokok adalah ilmu, sebab ilmu merupakan khasanah tak terbatas. Sementara, yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah mempelajari Al-Qur’an  dan Sunnah, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun kesetaraan dalam status sosial dan harta tidak menjadi patokan dalam Islam. Pernah disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi SAW menikahkan sepupu beliau dengan Zaid bin Haritsah. Abdurahman pernah menikahkan saudara perempuannya dengan Bilal ibn Rabi’ah, sedangkan Hindun pada saat itu adalah tokoh perempuan dari golongan Anshar.

Ibnu Abi Malikah, mengutip buku Ad-Din Al-Khalis, Vol. IV hlm.428, memaparkan tentang adzan di atas Ka’bah pada hari kemenangan kota Makkah (fat-hu Makkah). Sebagian penduduk Makkah saat itu berkomentar, “Hari rayakah hari ini, hingga harus diserukan adzan di atas Ka’bah?”

Sebagian lainnya berkomentar, “Sungguh, Allah murka dengan apa yang terjadi pada hari ini!”

Maka turunlah ayat, “Wahai manusia, sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.” (QS.Al-Hujarat:13).

Sebelumnya

Kado Pernikahan

Selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *