Anjuran Menikah (1)

“Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS.Al-A’raf:189)

Melalui ayat di atas, Allah SWT meletakkan dasar-dasar kehidupan yang penuh perasaan dan kedamaian. Istri menjadi penyejuk hati suami setelah seharian berjuang mencari nafkah dan suami bersandar kepada kasih sayangnya saat letih mengurus pekerjaan. Seorang istri hendaknya selalu tampak gembira dan berwajah manis saat bersama suami atau saat mendengarkan perkataan suami dan bertutur kata dengan lembut agar bisa meringankan kepenatan suami.

Seorang istri sebaiknya selalu berbagi rasa dengan suaminya, agar dia dapat melepas hasrat seksualnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tujuannya agar hati suami terhindar dari perbuatan yang diharamkan, terjaga dari kehinaan dan pelampiasan nafsu amoral, lihat Mahmud Ibn Syarif, Al-Islam wa al-Hayat al-Jinsiyah, hlm21-22.

“Maka nikahilah perempuan-perempuan (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki.” (QS.An-Nisa:3)

Ayat ini mengisyaratkan kewajiban untuk menikah. Namun, masih saja ada sejumlah orang yang melecehkan institusi pernikahan, pura-pura menyesalinya atau melontarkan komentar tanpa guna. Perbuatan itu hanya membuat mereka makin jauh dari jalan Allah dan mencemarkan lembaga suci yang telah dilegalkan Allah di dalam Kitab-Nya ini.

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS.Al-Baqarah:187)

 Ath-Thabari menafsirkan firman Allah “Mereka adalah pakaian bagimu…” bahwa semua suami harus menempatkan pasangannya bagai pakaian, baik saat menjelang tidur, saat berkumpul bersama keluarga, atau saat bersenggama, layaknya pakaian yang dikenakannya.

Suami menjadi pakaian bagi istrinya, sebagaimana firman Allah, “Dan Dia telah menjadikan malam sebagai pakaian bagimu.” Yaitu, sebagai waktu untuk beristirahat atau bernaung. Begitu juga istri menjadi pakaian bagi suami dan ada kecondongan suami kepadanya. Sebagaimana firman Allah, “Dan Dia jadikan istri agar ia senang kepadanya” Yaitu, masing-masing menjadi pakaian atau tempat berlindung bagi yang lain.

Muhammad Quthb menafsikan ayat ini sebagai berikut: “Gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang hubungan antara suami dan istri begitu halus dan indah.”

Sebagaimana  firman-Nya: “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.”

Kado Pernikahan

Kado Pernikahan

Pada kalimat ini digambarkan bahwa hubungan antara jasad dan jiwa sangalah erat. Pakaian adalah kebutuhan primer bagi manusia sebagai pelindung tubuh dari gangguan cuaca, sekaligus sebagai penutup aurat.

Dalam hal ini ada sesuatu yang mampu merekatkan suami dan istri, yang keduanya akan saling berjumpa kalau memang berasal dari satu jasad dan jiwa. Pada saatnya nanti, keduanya akan bersatu dan menghendaki keutuhan jalinan itu, bagaikan pakaian dan pemakainya. Keduanya bagaikan tabir yang masing-masing saling menutupi. Menurut pandangan lahiriah, memelihara harta, jiwa, dan keselamatan dari gangguan orang lain. Juga memelihara dari perbuatan keji dan hina, layaknya sepotong pakaian melindungi pemakainya dari gangguan dingin dan panas.

Keduanya laksana pakaian yang serasi, yang dipakai untuk beristirahat, sebagai pengobar semangat dalam bekerja, dan berusaha agar selalu tampak indah di mata pasangan maupun orang lain. Jika keutuhan hubungan mereka terjaga maka keduanya akan bersatu menjadi pakaian yang berfungsi untuk saling melindungi. Juga akan berusaha untuk berias dan menyempurnakan penampilan yang melekat padanya sebagai pelindung sekaligus tabir penutup

(“Manusia, antara materi dan Islam.” Hlm.249)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *