Syarah ‘Uquudul Lujain (bag.21)

Syarah ‘Uquudul Lujain (bag.21)

(قَالَ النَبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ) أي يستقبحظهورها للرجال < ص 15 > (فَإِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا) أي خدرها (اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ) أي رفع بصره إليها، فيوقع في الفتنة، أو المراد شيطان الإنس، سمي به على التشبيه (وَأَقْرَبُ مَا تَكُوْنُ الْمَرْأَةُ مِنَ اللهِ إِذَا كَانَتْ فِيْ بَيْتِهَا. وَفِيْ رِوَايَةٍ: الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ) أي غير وثيقة بها فساد كبير (فَاحْبِسُوْهُنَّ فِيْ الْبُيُوْتِ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا خَرَجَتْ الطَرِيْقَ) أي خرجت من خدرها وأرادت أن تسلك الطريق (قَالَ لَهَا أَهْلُهَا أَيْنَ تُرِيْدِيْنَ ؟، قَالَتْ: أَعُوْدُ مَرِيْضًا وَأَشِيْعُ جَنَازَةً، فَلاَ يَزَالُ بِهَا الشَيْطَانُ حَتَّى تُخْرِجَ ذِرَاعَهَا، وَمَا الْتَمَسَتْ) أي طلبت (الْمَرْأَةُ وَجْهَ اللهِ) أي رضاه (بِمِثْلِ أَنْ تَقْعُدَ فِيْ بَيْتِهَا وَتَعْبُدَ رَبَّهَا وَتُطِيْعَ بَعْلَهَا) أي زوجها.

Nabi SAW bersabda: Wanita adalah aurut, maka ketika ia keluar dari rumahnya maka mengelu-elukan/menggembosi syetan padanya. Dan sedekat-dekatnya jarak antara seorang isteri dan Allah ialah berada dalam rumahnya.
Dan diriwayatkan: Wanita (isteri) adalah aurot, maka tahanlah mereka untuk tidak keluar rumah, maka sesungguhnya seorang isteri jika ia keluar rumah, dan keluarganya bertanya padanya “Kemana engkau hendak pergi?” ia menjawab: Aku akan menengok yang sedang sakit, atau Aku akan melayat jenazah. Maka tak henti-hentinya syetan merayu sehingga terbuka dziro’nya.
Bagi seorang isteri tidak ada yang ia lakukan untuk mencari keridhoan Allah kecuali ia mendiami rumahnya dan beribadah kepada robb-Nya dan mentaati suaminya.

32

وكان حاتم الأصم يقول: “المرأة الصالحة عماد الدين وعمارة البيت وعون على الطاعة، والمرأة المخالفة تذيب قلب صاحبها وهي ضاحكة”. وكان عبد الله بن عمر يقول: “علامة كون المرأة من أهل النار أن تضحك لزوجها إذا أقبل، وتخونه إذا أدبر”. وكان حاتم الأصم يقول: “من علامة المرأة الصالحة أن يكون حبها مخافة الله، وغناها القناعة بقسمة الله وحُليّهَا السخاوة بما تملك، وعبادتها حسن خدمة الزوج، وهمتها الإستعداد للموت”.

Berkata hati Al-Ashom: Isteri yang sholihah laksana tiang dalam agama dan pemakmur rumahnya (dengan mentaati suaminya) dan bisa menolang dalam ketaatan.
Berkata Abdullah bin Umar: Sebagian tanda jika seorang isteri jadi ahli Neraka, ia bisa membuat suaminya tersenyum (bermanis-manis didepan suami) namun di belakang ia berkhianat.
Berkata Hatim Al-Ashom: Sebagian tanda isteri sholihah adalah jika kecintaannya ia tempatkan pada takut kepada Allah. Dan kekayaannya adalah qona’ah. Dan perhiasannya adalah rasa kasih. Dan ibadahnya adalah melayani suami dengan sebaik-baiknya. Dan Tujuan dari semua itu adalah ia jadikan bekal menghadapi kematian.

     (وَمِنَ الْكَبَائِرِ) أي كبائر الذنوب (خُرُوْجُ الْمَرْأَةِ المْمُزَوّجَةِ مِنْ بَيْتِهَا) أي محل إقامتها (بِغَيْرِ إِذْنِهِ، وَلَوْ لِمَوْتِ أَحَدِ أَبَوَيْهَا) أي لأجل جنازته.

Sebagian dari dosa besar adalah keluarnya seorang isteri dari rumah tanpa izin suaminya, walaupun untuk sebab wafatnya salah satu orang tuanya.

     (وَفِيْ الإِحْيَاءِ) للغزالي رحمه الله تعالى (خَرَجَ رَجُلٌ فِيْ سَفَرِهِ وَعَهِدَ) بكسر الهاء أي أوصى (إِلَى امْرَأَتِهِ أَنْ لاَ تَنْزِلَ مِنَ الْعلوِ إِلَى السفْلِ، وَكَانَ أَبُوْهَا فِيْ الأَسْفَلِ فَمَرِضَ) أي الأب (فَأَرْسَلَتْ الْمَرْأَةُ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْتَأْذِنُ فِيْ النُزُوْلِ إِلَى أَبِيْهَا) أي لعيادته (فَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَطِيْعِيْ زَوْجَكِ”) أي ولا تنزلي (فَمَاتَ) أي الأب (فَاسْتَأْذَنَتْ) أي رسولَ الله صلى الله عليه وسلم في النزول لأجل شهود جنازته (فَقَالَ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَطِيْعِيْ زَوْجَكِ”) في عدم النزول (فَدُفِنَ أَبُوْهَا، فَأَرْسَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهَا) أي المرأة (يُخْبِرُهَا “أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ غَفَرَ لأَبِيْهَا بِطَاعَتِهَا لِزَوْجِهَا”).

Imam Al-Ghozali menuturkan dalam kitab Ihya: (tersebutlah sebuah keluarga dizaman rosulullah) seorang suami akan melakukan perjalanan dan ia berwasiat pada isterinya untuk tidak turun dari lantai atas ke lantai bawah yang mana orang tua si isteri ini mendiami lantai bawah. Dalam keadaan suami masih dalam perjalanannya si ayah wanita ini sakit, ia ingin menjenguk ayahnya namun ia tidak berani melanggar wasiat suaminya, akhirnya ia mengirim utusan kepada Rosulullah untuk mohon di izinkan turun guna menengok orang tuanya, Maka bersabda Rosul: “Taatilah suamimu”.
Kemudian wafatlah orang tuanya, dan wanita ini ingin menyaksikan jenazah orangtuanya untuk yang terakhir kalinya, kemudian ia mengutus utusan kepada Rosulullah untuk memohonkan izin guna melihat jenazah orangtuanya, Nabi bersabda: Taatilah suamimu.
Maka dikuburkanlah orangtuanya. Tak lama Rosulullah mengirim utusan yang memberi kabar kepada wanita ini, Bahwa: Allah SWT telah mengampuni dosa orang tuanya dengan sebab ketaatannya kepada suaminya.

     أوصت امرأة بنتها، فقالت: احفظي لزوجك خصالا عشرا يكنْ لكِ ذُخْرًا، الأول والثانية: القناعة وحسن السمع له والطاعة. والثالثة والرابعة: التفقد لمواقع عينه وأنفه، فلاتقع عينه منكِ على قبيح، ولا يشمّ أنفه منك إلا طيب الريح. والخامسة والسادسة: التفقد لوقت طعامه ومنامه، فإن شدة الجوع ملهبة، وتنغيصَ النوم مغضبة. والسابعة والثامنة: الإحراز لماله والرعاية إلى حشمه وعياله. والتاسعة والعاشرة: لا تعصين له أمرا ولا تُفْشِين له سِرّا، فإنكِ إن خالفتِ أمره  أوْغِرْتِ صدرَه، وإن أفشيتِ سرّه لم تأمني غدره، وإياكِ ثم إياكِ والفرحَ بين يديه إذا كان مهتما، والكآبة لديه  إن كان فرحا.

Dengan kejadian tersebut wanita ini pun berwasiat kepada puterinya: Peliharalah sepuh perkara yang menjadi hak suamimu, niscaya itu akan jadi bekal kebaikan buatmu.
Pertama dan kedua, Qona’ah dan mendengar baik-baik ucapan suami serta taatilah.
Ketiga dan keempat, Perhatikan dan periksalah penglihatan dan penciuman suamimu, Jangan biarkan suami memandangmu dengan pandangan tidak suka. Dan jangan biarkan suamimu ketika ia mencium aromamu kecuali harum.
Kelima dan keenam, Periksa dan perhatikan waktu makan dan waktu tidur suamimu.
Ketujuh dan kedelapan, Menjaga harta suami dan jangan berbuat tidak senonoh terhadap suami dan keluarga suami.
Kesembilan dan kesepuluh, Jangan bantah perkataannya dan jangan bicarakan apa yang jadi rahasiannya.

Sungguh jika engkau melawan perintahnya dan ada rasa cemburu di dadanya juga membicarakan rahasianya… Maka engkau jangan merasa aman karena telah berkhianat paadanya.
Jagalah… Jagalah berikan kebahagian ketika ia sedang bersedih/bingung/terpuruk. Dan berilah masukan (agar tidak berlebihan) ketika ia sedang gembira.

في بيان حقوق الزوجين لمحمد بن عمر بن على نووي البنتني الجاوي شرح عقود اللجين
Syarah ‘Uquudul Lujain dalam menjelaskan hak dan kewajiban suami istri, karangan syeikh Muhammad bin Umar bin Ali Nawawwi Al-Bantani, Al-Jawi
PERLU DIKETAHUI: Artikel ini disediakan untuk kebutuhan internet secara menyeluruh, sedangkan untuk keterangan lebih jelas lagi tentang isi kitab ‘Syarah Uquudul Lujain’ dapat anda ikuti melalui Majelis-majelis terdekat atau tanyakan pada Ulama-ulama yang ada disekitar anda.
Bagian pintas Syarah ‘Uquudul Lujain 
(bag.01) (bag.02(bag.03) (bag.04) (bag.05) (bag.06) (bag.07) (bag.08) (bag.09) (bag.10) (bag.11) (bag.12) (bag.13) (bag.14) (bag.15) (bag.16) (bag.17) (bag.18) (bag.19) (bag.20) (bag.21) (bag.22) (bag.23) (bag.24) (bag.25) (bag.26) (bag.27) (bag.28) (bag.29) (bag.30) (bag.31) (bag.32) (bag.33)

Wallahu a’lam

Mitra Kami

am production
Mari jadikan segalanya lebih baik lagi.

Terima kasih atas kunjungan ada dalam website sederhana kami, masih banyak artikel menarik lain yang belum sempat kami unggah disini, pastikan anda tetap mengikuti perkembangan terbaru halaman ini, catat dan simpan alamat website ini agar anda mudah mencari kami…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *