Buta yang sesungguhnya hanyalah buta hati

Buta yang sesungguhnya adalah buta hati

Masa itu tiada lain hanya kesulitan,
lalu kemudahan datang mengiringinya,
atau kesempitan lalu kelapangan datang sesudahnya.

   Seorang lelaki tunanetra hidup bahagia bersama dengan istri yang tulus mencintainya, seorang anak lelaki yang berbakti, dan seorang teman yang setia. Satu-satunya hal yang mengurangi kebahagiaannya adalah kegelapan yang dialaminya. Dia senantiasa berangan-angan untuk dapat melihat kembali cahaya agar dapat melihat kebahagiaan yang dirasakannya dengan mata kepala sendiri. Buta yang sesungguhnya hanyalah

Selanjutnya, seorang dokter spesialis mata datang berkunjung ke kampung tempat tinggal orang tunanetra ini, lalu ia datang menemui dokter tersebut untuk mengobatinya agar matanya dapat melihat kembali. Sang dokter memberinya obat tetes mata dan berpesan kepadanya agar menggunakan obatnya secara teratur seraya berkata kepadanya: “Sesungguhnya jika anda melakukan pengobatan ini secara teratur, nicaya anda akan dapat melihat cahaya kembali secara mendadak dalam waktu yang tidak dapat ditentukan.”

Lelaki ini terus-menerus menggunakan obat tetes itu, sedang orang-orang yang berada di sekitarnya telah putus asa dari kesembuhannya. Akan tetapi, sesudah ia menggunakan obat tetes itu selama beberapa hari, ia dapat melihat cahaya kembali dan merasakan bahwa dirinya duduk di depan rumahnya.  Mendadak ia seakan-akan menjadi gila karena kegembiraannya yang sangat, lalu ia berlari masuk ke dalam rumahnya untuk memberitahukan kepada istri tercintanya. Tiba-tiba ia melihat istrinya berada di dalam kamarnya sedang berselingkuh dengan temannya itu. Ia hampir tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Selanjutnya, ia beralih ke kamar yang lain untuk melihat anak lelakinya, maka ia menjumpai anaknya sedang membuka lemari besinya dan mencuri sebagian harta yang ada di dalamnya.

Akhirnya, si tunanetra ini surut mundur seraya menjerit dan mengatakan: “Ini bukan ulah dokter, melainkan ulah penyihir yang terkutuk.” Ia pun mengambil paku dan membutakan matanya sendiri dan kembali kepada kebahagiaannya yang semula dalam keadaan ketakutan.

Pencerahan

Sesungguhnya kecemasan jiwa lebih parah pengaruhnya ketimbang penyakit fisik.

 

Dipetik dari buku: “Jadilah Wanita yang paling Bahagia
” Karya “Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni

Demikianlah penjelasan tentang ”Buta yang sesungguhnya adalah buta hati” semoga artikel ini berguna bagi kelangsungan hidup anda, jadilah orang yang berguna bagi Agama, Nusa dan Bangsa.

Artikel menarik lainnya…

Mitra Kami

am production
Mari jadikan segalanya lebih baik lagi.

Terima kasih atas kunjungan ada dalam website sederhana kami, masih banyak artikel menarik lain yang belum sempat kami unggah disini, pastikan anda tetap mengikuti perkembangan terbaru halaman ini, catat dan simpan alamat website ini agar anda mudah mencari kami…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *